AF dynamicSainsIT

My Name Is Khairul ilham

Iam study at STMIK AMIKOM YOGYAKARTA

I am a Linux User

wish i can make my own linux some day

use your skill to prove their is a losser

read this blog's and use your imagine to make it real Networker

Networking is the most interesting hooby

I love networking more than anything.

hacker is not crime

hacker can help the system admin to make system strong form thread.

Kamis, 30 Januari 2014

Pembagian Bandwith Warnet per Client

Tulisan ini hanya sekedar sharing untuk implementasi penggunaan Queue Tree diwarnet, dengan asumsi bahwa koneksi internet 2Mbps stabil (tidak naek turun) kesemua site, jumlah PC adalah 12 unit share maximum 1Mbps/pc (naek dan turun dengan otomatis jika user yang menggunakan bertambah, jika hanya 1 dan 2 user maka bandwith akan mentok di 1Mbps untuk tiap user).

Kondisi jaringan ip lan router=192.168.0.14, billing server=192.168.0.13, asumsi billing server juga digunakan operator untuk ngenet.

Tambahkan ip address pada lan router
ip address add address=192.168.0.14/28 interface=lan

Kemudian kita lakukan marking connection pada setiap pc-client
ip firewall mangle add action mark-connection new-connection-mark=pc01 src-address=192.168.0.1 chain=prerouting

ip firewall mangle add action mark-connection new-connection-mark=pc02 src-address=192.168.0.2 chain=prerouting

ip firewall mangle add action mark-connection new-connection-mark=pc03 src-address=192.168.0.3 chain=prerouting

ip firewall mangle add action mark-connection new-connection-mark=pc04 src-address=192.168.0.4 chain=prerouting

ip firewall mangle add action mark-connection new-connection-mark=pc05 src-address=192.168.0.5 chain=prerouting

ip firewall mangle add action mark-connection new-connection-mark=pc06 src-address=192.168.0.6 chain=prerouting

ip firewall mangle add action mark-connection new-connection-mark=pc07 src-address=192.168.0.7 chain=prerouting

ip firewall mangle add action mark-connection new-connection-mark=pc08 src-address=192.168.0.8 chain=prerouting

ip firewall mangle add action mark-connection new-connection-mark=pc09 src-address=192.168.0.9 chain=prerouting

ip firewall mangle add action mark-connection new-connection-mark=pc10 src-address=192.168.0.10 chain=prerouting

ip firewall mangle add action mark-connection new-connection-mark=pc11 src-address=192.168.0.11 chain=prerouting

ip firewall mangle add action mark-connection new-connection-mark=pc12 src-address=192.168.0.12 chain=prerouting

ip firewall mangle add action mark-connection new-connection-mark=op src-address=192.168.0.13 chain=prerouting

Lakukan marking packet dari setiap connection yang terjadi
ip firewall mangle add action=mark-packet new-packet-mark=pc01 connection-mark=pc01 chain=prerouting passtrough=no

ip firewall mangle add action=mark-packet new-packet-mark=pc02 connection-mark=pc02 chain=prerouting passtrough=no

ip firewall mangle add action=mark-packet new-packet-mark=pc02 connection-mark=pc03 chain=prerouting passtrough=no

ip firewall mangle add action=mark-packet new-packet-mark=pc03 connection-mark=pc03 chain=prerouting passtrough=no

ip firewall mangle add action=mark-packet new-packet-mark=pc04 connection-mark=pc04 chain=prerouting passtrough=no

ip firewall mangle add action=mark-packet new-packet-mark=pc05 connection-mark=pc05 chain=prerouting passtrough=no

ip firewall mangle add action=mark-packet new-packet-mark=pc06 connection-mark=pc06 chain=prerouting passtrough=no

ip firewall mangle add action=mark-packet new-packet-mark=pc07 connection-mark=pc07 chain=prerouting passtrough=no

ip firewall mangle add action=mark-packet new-packet-mark=pc08 connection-mark=pc08 chain=prerouting passtrough=no

ip firewall mangle add action=mark-packet new-packet-mark=pc09 connection-mark=pc09 chain=prerouting passtrough=no

ip firewall mangle add action=mark-packet new-packet-mark=pc10 connection-mark=pc10 chain=prerouting passtrough=no

ip firewall mangle add action=mark-packet new-packet-mark=pc11 connection-mark=pc11 chain=prerouting passtrough=no

ip firewall mangle add action=mark-packet new-packet-mark=pc12 connection-mark=pc12 chain=prerouting passtrough=no

ip firewall mangle add action=mark-packet new-packet-mark=op connection-mark=op chain=prerouting passtrough=no

Tambahkan queue tree yang digunakan parent pada interface lan agar bandwith bisa terbagi rata
queue tree add parent=lan max-limit=2M name=Downlink

Tambahan penggunaan PCQ agar setting lebih maximal lagi
queue type add name=PCQ-1Mbps kind=pcq pcq-rate=1024k pcq-classifier=dst-address

Tambahkan child pada parent sesuai dengan packet mark
queue tree add parent=Downlink limit-at=128k max-limit=1024k name=pc01 packet-mark=pc01 queue=PCQ-1Mbps

queue tree add parent=Downlink limit-at=128k max-limit=1024k name=pc02 packet-mark=pc02 queue=PCQ-1Mbps

queue tree add parent=Downlink limit-at=128k max-limit=1024k name=pc03 packet-mark=pc03 queue=PCQ-1Mbps

queue tree add parent=Downlink limit-at=128k max-limit=1024k name=pc04 packet-mark=pc04 queue=PCQ-1Mbps

queue tree add parent=Downlink limit-at=128k max-limit=1024k name=pc05 packet-mark=pc05 queue=PCQ-1Mbps

queue tree add parent=Downlink limit-at=128k max-limit=1024k name=pc06 packet-mark=pc06 queue=PCQ-1Mbps

queue tree add parent=Downlink limit-at=128k max-limit=1024k name=pc07 packet-mark=pc07 queue=PCQ-1Mbps

queue tree add parent=Downlink limit-at=128k max-limit=1024k name=pc08 packet-mark=pc08 queue=PCQ-1Mbps

queue tree add parent=Downlink limit-at=128k max-limit=1024k name=pc09 packet-mark=pc09 queue=PCQ-1Mbps

queue tree add parent=Downlink limit-at=128k max-limit=1024k name=pc10 packet-mark=pc10 queue=PCQ-1Mbps

queue tree add parent=Downlink limit-at=128k max-limit=1024k name=pc11 packet-mark=pc11 queue=PCQ-1Mbps

queue tree add parent=Downlink limit-at=128k max-limit=1024k name=pc12 packet-mark=pc12 queue=PCQ-1Mbps

queue tree add parent=Downlink limit-at=128k max-limit=1024k name=op packet-mark=op queue=PCQ-1Mbps

Maka setelah itu bandwith akan tershapping rata kepada setiap user, ini hanya sekedar share, untuk mengembangkan lebih jauh silahkan trial dan error sendiri

Limitasi Bandwidth Sederhana

Cara paling mudah untuk melakukan queue pada RouterOS adalah dengan menggunakan Simple Queue. Kita bisa melakukan pengaturan bandwidth secara sederhana berdasarkan IP Address client dengan menentukan kecepatan upload dan download maksimum yang bisa dicapai oleh client.
Contoh :
Kita akan melakukan limitasi maksimal upload : 128kbps dan maksimal download : 512kbps terhadap client dengan IP 192.168.10.2 yang terhubung ke Router. Parameter Target Address adalah IP Address dari client yang akan dilimit. Bisa berupa :
  • Single IP (192.168.10.2) 
  • Network IP (192.168.10.0/24) 
  • Beberapa IP (192.168.10.2,192.168.10.13) dengan menekan tombol panah bawah kecil di sebelah kanan kotak isian.
Penentuan kecepatan maksimum client dilakukan pada parameter target upload dan target download max-limit. Bisa dipilih dengan drop down menu atau ditulis manual. Satuan bps (bit per second).
 
Dengan pengaturan tersebut maka Client dengan IP 192.168.10.2 akan mendapatkan kecepatan maksimum Upload 128kbps dan Download 256kbps dalam keadaan apapun selama bandwidth memang tersedia. 
network diagram
Metode Pembagian Bandwidth Share 
Selain digunakan untuk melakukan manajemen bandwidth fix seperti pada contoh sebelumnya, kita juga bisa memanfaatkan Simple Queue untuk melakukan pengaturan bandwidth share dengan menerapkan Limitasi Bertingkat. Konsep Limitasi Bertingkat  bisa anda baca pada artikelMendalami HTB pada QOS RouterOS Mikrotik 
Contoh : 
Kita akan melakukan pengaturan bandwidth sebesar 512kbps untuk digunakan 3 client. 
Konsep: 

  1. Dalam keadaan semua client melakukan akses, maka masing-masing client akan mendapat bandwidth minimal 128kbps.
  2. Jika hanya ada 1 Client yang melakukan akses, maka client tersebut bisa mendapatkan bandwidth hingga 512kbps.
  3. Jika terdapat beberapa Client (tidak semua client) melakukan akses, maka bandwidth yang tersedia akan dibagi rata ke sejumlah client yg aktif.
Topologi Jaringan 
Router kita tidak tahu berapa total bandwidth real yang kita miliki, maka kita harus definisikan pada langkah pertama. Pendefinisian ini bisa dilakukan dengan melakukan setting Queue Parent. Besar bandwidth yang kita miliki bisa diisikan pada parameter Target Upload Max-Limit danTarget Download Max-Limit. 
Langkah selanjutnya kita akan menentukan limitasi per client dengan melakukan setting child-queue. 
Pada child-queue kita tentukan target-address dengan mengisikan IP address masing-masing client. Terapkan Limit-at (CIR) : 128kbps danMax-Limit (MIR) : 512kbps. Arahkan ke Parent Total Bandwidth yang kita buat sebelumnya. 

Ulangi untuk memberikan limitasi pada client yang lain, sesuaikan Target-Address. 

 
Selanjutnya lakukan pengetesan dengan melakukan download di sisi client.
Pada gambar berikut menunjukkan perbedaan kondisi penggunaan bandwidth client setelah dilakukan limitasi bertingkat 
Kondisi 1 
Kondisi 1 menunjukkan ketika hanya 1 client saja yg menggunakan bandwidth, maka Client tersebut bisa mendapat hingga Max-Limit. 

Perhitungan : Pertama Router akan memenuhi Limit-at Client yaitu 128kbps. Bandwitdh yang tersedia masih sisa 512kbps-128kbps=384kbps. Karena client yang lain tidak aktif maka 384kbps yang tersisa akan diberikan lagi ke Client1 sehingga mendapat 128kbps+384kbps =512kbps atau sama dengan max-limit. 
Kondisi 2 
Kondisi 2 menggambarkan ketika hanya 2 client yang menggunakan bandwidth. 
Perhitungan : Pertama router akan memberikan limit-at semua client terlebih dahulu. Akumulasi Limit-at untuk 2 client = 128kbps x 2 =256kbps . Bandwidth total masih tersisa 256kbps. Sisa diberikan kemana.? Akan dibagi rata ke kedua Client.
Sehingga tiap client mendapat Limit-at + (sisa bandwidth / 2) = 128kbps+128kbps =256kbps 
Kondisi 3 
Kondisi 3 menunjukkan apabila semua client menggunakan bandwidth.
Perhitungan: Pertama Router akan memenuhi Limit-at tiap client lebih dulu, sehingga bandwidth yang digunakan 128kbps x 3 = 384kbps. Bandwidth total masih tersisa 128kbps. Sisa bandwidth akan dibagikan ke ketiga client secara merata sehingga tiap client mendapat 128kbps + (128kbps/3) = 170kbps.
Pada Limitasi bertingkat ini juga bisa diterapkan Priority untuk client. Nilai priority queue adalah 1-8 dimana terendah 8 dan tertinggi 1.
Contoh : 
Client 1 adalah VVIP user, maka bisa diberikan Priority 1 (tertinggi).
 

Jika kita menerapkan priority perhitungan pembagian bandwidth hampir sama dengan sebelumnya. Hanya saja setelah limit-at semua client terpenuhi, Router akan melihat priority client. Router akan mencoba memenuhi Max-Limit client priority tertinggi dengan bandwidth yang masih tersedia. 

 

Perhitungan: Client 1 mempunyai priority tertinggi maka router akan mencoba memberikan bandwidth sampai batas Max-Limit yaitu 512kbps. Sedangkan bandwidth yang tersisa hanya 128kbps, maka Client1 mendapat bandwidth sebesar Limit-at + Sisa Bandwidth = 128kbps+128kbps = 256kbps


Konsep pembagian bandwidth ini mirip ketika anda berlangganan internet dengan sistem Bandwidth share.
Limitasi bertingkat juga bisa diterapkan ketika dibutuhkan sebuah pengelompokkan pembagian bandwidth. 

 
Tampak pada gambar, limitasi Client1 dan Client3 tidak menganggu limitasi Client2 karena sudah berbeda parent. Perhatikan max-limit pada Limitasi Manager dan Limitasi Staff
network diagram
Bypass Traffic Lokal
Ketika kita melakukan implementasi Simple Queue, dengan hanya berdasarkan target-address, maka Router hanya akan melihat dari mana traffic itu berasal. Sehingga kemanapun tujuan traffic nya (dst-address) tetap akan terkena limitasi. Tidak hanya ke arah internet, akan tetapi ke arah jaringan Lokal lain yang berbeda segment juga akan terkena limitasi.
Contoh :
  • IP LAN 1 : 192.168.10.0/24
  • IP LAN 2 : 192.168.11.0/24
Jika hanya dibuat Simple Queue dengan target-address : 192.168.10.0/24, traffic ke arah 192.168.11.0/24 juga akan terlimit. Agar traffic ke arah jaringan lokal lain tidak terlimit, kita bisa membuat Simple Queue baru dengan mengisikan dst-address serta tentukan Max-Limit sebesar maksimal jalur koneksi, misalnya 100Mbps. Kemudian letakkan rule tersebut pada urutan teratas (no. 0). 
Rule Simple Queue dibaca dari urutan teratas (no. 0) sehingga dengan pengaturan tersebut traffic dari LAN1 ke LAN2 dan sebaliknya maksimum transfer rate sebesar 100Mbps atau setara dengan kecepatan kabel ethernet. 

Cara Rooting SONY XPERIA L (C2105)




sony-xperia-l-root
GambarBagi anda  yang menunggu  solusi untuk rooting bagi  perangkat mid-range ini , Prosedur ini  cukup mudah dan Anda dapat masuk ke sistem root – menginstal aplikasi hanya dalam waktu singkat !
Baca dengan seksama jika Anda ingin root  Xperia L anda.
I. Sebelum Mulai
1 . Prosedur ini bekerja pada setiap Sony Xperia L dengan bootloader yang terkunci dan berjalan dengan firmware 15.0.А.2.17 , jangan mencoba hal  ini pada perangkat atau firmware lain atau anda akan mengalami  brick/bootlop.
2 . Back up semua data dan file  yang Anda rasa penting sebelum memulai .
3 . pastikan Batrei terisi lebih dari 75 % atau lebih sebelum mulai .
II.Persiapan
Xperia_L_ROOT_15.0._.2.17_2.zip [Link tersedia dalam posting ini ]
1 . Aktifkan USB Debugging pada perangkat Anda . Anda dapat melakukan ini dengan menuju ke Settings > Pengembangan Pilihan> USB Debugging pastikan dalam keadaan tercentang .
2 . Memungkinkan instalasi aplikasi non-pasar . Untuk melakukan hal ini , pergi ke Pengaturan> Pengamanan dan memeriksa Sumber  tidak diketahui  dan centang .
3 . Hubungkan perangkat Anda ke PC Windows Anda menggunakan kabel microUSB yang kompatibel .
5 . Ekstrak file Xperia_L_ROOT_15.0._.2.17_2.zip yang Anda download di atas ke folder pada desktop Anda .
6 . Dari folder diekstraksi , klik dua kali pada run.bat untuk menjalankan alat rooting .
7 . Ikuti petunjuk pada layar dan menunggu proses akan selesai .
Pada titik ini , Anda harus memiliki Root parsial . Buka aplikasi Anda dan memeriksa untuk melihat apakah Anda memiliki Superuser atau SuperSu aplikasi terinstal .
8 . Dari folder diekstraksi , klik ganda pada supersu.bat jika Anda memiliki aplikasi SuperSu atau superuser.bat jika Anda memiliki aplikasi Superuser diinstal . Konfirmasi akses root pada perangkat Anda bila diminta .
10 . Reboot perangkat Anda .
Setelah anda reboot , Sony Xperia L Kini telah ter-root !
Silahkan Download  Tools Nya Di Sini :
Dowload ku

Rabu, 20 November 2013

Tools ddos & hidden ip

-Anonymous DoSer http://www.mediafire.com/?rrbmmms8c62jymr
- Anonymous External Attack http://www.mediafire.com/?49imnv3wh5fa4b5
-ByteDOS v3.2 http://www.mediafire.com/?ecbjw425kl4xtoj
-Hoic Vercion v2.1 http://www.mediafire.com/?q7jzd7z991z7k82
-LOIC http://www.mediafire.com/?79b5xqa10ddcnro
-PoWeRFuL DoSeR http://www.mediafire.com/?04q00er3z54kmzr
-Jays Booter http://www.mediafire.com/?q5ba9kb0cwuu5c5
-Site_Hog_v1_Release http://www.mediafire.com/?m9627jc0v2i12vd
-SYN-Flood-DOS http://www.mediafire.com/?jzax9kg4dhn1y6v
-Turbinas VolkSv1 http://www.mediafire.com/?af5f3fezzcxaabn
HackPack #Booters #DDosShit #ManyOtherStuff: http://www.filesnack.com/files/cu98o9nx
-rDos + Port Scanner http://www.mediafire.com/?juvcot3l11llt1x
-GoodBye v3.0 http://www.mediafire.com/?zyam8r9i05qb3kc
-Datalife Engine Denial of Service http://pastebin.com/H1jUX6qF
-Joker IP Reserve Tool http://www.mediafire.com/?48vkvi3cgns5pa8
=========================================
PROTECT IP TOOLS (To be downloaded and installed):
SumRando: https://www.sumrando.com/
Real Hide IP: http://www.mediafire.com/?o454kp9q44d9h0w
Hotspot Shield: http://hotspotshield.com/
Expat Shield: http://expatshield.com/
SecurityKISS: http://www.securitykiss.com/
CyberGhost: http://cyberghostvpn.com/

Definisi & Penjelasan Tentang SNORT











Snort adalah NIDS yang bekerja dengan menggunakan signature detection, berfungsi juga sebagai sniffer dan packet logger. Snort pertama kali di buat dan dikembangkan oleh Marti Roesh, lalu menjadi sebuah opensource project. Versi komersial dari snort dibuat oleh Sourcefire (www.sourcefire.com).Snort memiliki karakteristik, sebagai berikut:
1.      Berukuran kecil – Source code dan rules untuk rilis 2.1.1 hanya 2256k.
2.      Portable untuk banyak OS – Telah diporting ke Linux, Windows, OSX, Solaris, BSD,dll.
3.      Cepat – Snort mampu mendeteksi serangan pada network 100Mbps.
4.      Mudah dikonfigurasi – Snort sangat mudah dikonfigurasi sesuai dengan kebutuhan network kita. Bahkan kita juga dapat membuat rule sendiri untuk mendeteksi adanya serangan baru.
5.      Free – Kita tidak perlu membayar sepeser pun untuk menggunakan snort. Snort bersifat open source dan menggunakan lisensi GPL.
A. Komponen Snort.
Snort merupakan packet sniffing yang sangat ringan. Snifing interface yang digunakan berbasis libpcap (pada Unix tersedia dengan tcpdump, www.tcpdump.org). Pembuat snort sangat fokus pada engine yang digunakan untuk mendeteksi serangan dan memanfaatkan tools tcpdump untuk mengambil paket network. Salah satu keunggulan snort adalah bahwa snort memiliki plugin sistem yang sangat fleksibel untuk dimodifikasi.
Snort memiliki beberapa komponen yang tiap komponennya mempunyai tugas masing-masing. Pada saat ada paket network yang melewati Ethernet di tempat snort dipasang, maka ada beberapa hal yang dilalui:
Packet capture library (libpcap).
Packet capture library – akan memisahkan paket data yang melalui ethernet card untuk selanjutnya digunakan oleh snort.
Packet decoder.
Packet decoder – mengambil data di layer 2 yang dikirim dari packet capture library(proses 1). Pertama ia akan memisahkan Data link (seperti ethernet, TokenRing, 802.11) kemudian protokol IP, dan selanjutnya paket TCP dan UDP. Setelah pemisahan data selesai, snort telah mempunyai informasi protokol yang dapat diproses lebih lanjut.
Preprocessor.
Selanjutnya dilakukan analisis (preprocessor) atau manipulasi terhadap paket sebelum dikirim ke detection engine. Manipulasi paket dapat berupa ditandai, dikelompokan atau malah dihentikan.
Detection Engine.
Inilah jantung dari snort. Paket yang datang dari packet decoder akan ditest dan dibandingkan dengan rule yang telah ditetapkan sebelumnya. Rule berisi tanda-tanda (signature) yang termasuk serangan.
Output.
Output yang dihasilkan berupa report dan alert. Ada banyak variasi output yang dihasilkan snort, seperti teks (ASCII), XML, syslog, tcpdump, binary format, atau Database (MySQL, MsSQL, PostgreSQL, dsb).
B. Memilih lokasi Snort.
Hal terakhir yang harus kita ketahui, sekaligus menjadi faktor yang menentukan keefektifan dari snort adalah ‘lokasi’. Ini sangat penting terlebih jika jaringan yang kita kelola berukuran besar. Oleh karena itu, sebelum memulai menginstal snort, tentukan terlebih dahulu apa yang akan kita lindungi, apakah:
1.      Single server
2.      Sekelompok server
3.      Semua subnet
Setelah kita selesai menentukan apa yang akan dimonitor, maka kita bisa leluasa menentukan dimana akan meletakan snort. Jadi untuk menempatkan snort tergantung kepada apa yang akan kita monitor.
Network biasanya menggunakan firewall untuk memisahkan server publik ke dalam De-Militarized Zone (DMZ) dan jaringan lokal ke dalam internal NAT network. Hal-hal yang penting untuk diketahui, adalah:
1.      DMZ – adalah daerah untuk menempatkan server publik yang sering diakses melalui internat. Server seperti email, web, atau ftp bisa kita letakan di sini secara berkelompok. Biasanya zone di daerah ini banyak mengalami lalu lintas data dari internet.
2.      NAT (Network Address Translation) adalah cara untuk menyembunyikan beberapa komputer yang menggunakan IP private di belakang IP publik. Dengan menggunakan NAT, komputer internal di jaringan tetap bisa menggunakan internet meskipun menggunakan IP private. Tetapi sebaliknya, pengguna internet tidak bisa mengenali workstation yang ada di dalam NAT.
Mengapa kita perlu memisahkan kedua jaringan ini? Jika di suatu perusahaan hanya menggunakan internet untuk jaringan komunikasi internal seperti mengirim email atau browsing mungkin tidak menjadi masalah. Tetapi jika perusahaan juga membutuhkan server web atau email sendiri untuk menjalankan bisnisnya, maka berhati-hatilah, karena kita telah mempublikasikan kepada dunia tentang web site perusahaan kita. Artinya semua orang di dunia juga bisa bermain-main dan mengerjai server kita.
Oleh karena itu, jika server yang terletak di DMZ misalnya berhasil ditembus olehcracker, maka kerusakan dapat diminimalkan karena mereka tidak dapat keluar dari DMZ ke jaringan internal.
Jadi setiap kita menempatkan server publik, di situ juga harus dipasang snort. Jika jaringan kita menggunakan DMZ, maka setidaknyadilakukan hal-hal sebagai berikut:
1.      Buat satu port di switch DMZ sebagai monitoring port.
2.      Tambahkan perintah di file konfigurasi snort (snort.conf) untuk memonitor subnet tersebut.
CARA KERJA
Salah satu aplikasi Linux yang dapat dipakai untuk meningkatkan keamanan komputer adalah Snort.  Secara garis besar, Snort adalah sebuah program yang memiliki tiga fungsi atau tiga modus operasi.  Snort dapat dipakai dalam packet sniffer mode sehingga bekerja sebagai sniffer sama seperti Wireshark.  Sama seperti Wireshark, Snort juga dapat menyimpan setiap packet yang di-capture ke dalam media penyimpan di moduspacket logger mode.  Akan tetapi berbeda dengan Wireshark, Snort dapat dipakai sebagai komponen NIDS dengan menjalankannya pada Network Intrusion Detection System (NIDS) mode.  Pada modus yang terakhir ini, Snort akan menganalisa packet  berdasarkan rule yang ada untuk mengenali adanya upaya serangan hacker.
Untuk memulai menggunakan Snort, download requirement serta source Snort, kemudian build & install.  Bagi yang memakai distro Ubuntu, libdnet di distro tersebut adalah library yang berbeda dengan yang dibutuhkan Snort. Di Ubuntu, libdnet adalah DECNet libraries, sementara yang dibutuhkan oleh Snort diganti namanya menjadi libdumpnet.  Sebaiknya download source dari Google Code, kemudian install ke lokasi /usr, bukan/usr/local.  Caranya adalah dengan menambahkan argumen - -prefix=/usr pada saat memanggil scriptconfigure.
Berikut adalah contoh menjalankan Snort sebagai packet sniffer:
$ sudo snort -v
Running in packet dump mode

        --== Initializing Snort ==--
Initializing Output Plugins!
pcap DAQ configured to passive.
Acquiring network traffic from "eth0".
Decoding Ethernet

        --== Initialization Complete ==--

   ,,_     -*> Snort! <*-
  o"  )~   Version 2.9.0.5 (Build 135)
   ''''    By Martin Roesch & The Snort Team: http://www.snort.org/snort/snort-team
           Copyright (C) 1998-2011 Sourcefire, Inc., et al.
           Using libpcap version 1.1.1
           Using PCRE version: 8.12 2011-01-15

Commencing packet processing (pid=31839)
06/05-12:07:03.524481 192.168.1.200:45263 -> 192.168.1.5:53
UDP TTL:64 TOS:0x0 ID:63753 IpLen:20 DgmLen:73 DF
Len: 45
=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+

06/05-12:07:03.582863 192.168.1.5:53 -> 192.168.1.200:45263
UDP TTL:255 TOS:0x0 ID:4887 IpLen:20 DgmLen:186 DF
Len: 158
...
===============================================================================
Run time for packet processing was 27.619079 seconds
Snort processed 19 packets.
Snort ran for 0 days 0 hours 0 minutes 27 seconds
   Pkts/sec:            0
===============================================================================
Packet I/O Totals:
   Received:           19
   Analyzed:           19 (100.000%)
    Dropped:            0 (  0.000%)
   Filtered:            0 (  0.000%)
Outstanding:            0 (  0.000%)
   Injected:            0
===============================================================================
... 
Untuk mencatat rekaman packet ke dalam file teks, Snort bisa dijalankan dengan memberikan perintah seperti:
snort -dev -l ./log
Perintah di atas akan menulis rekaman packet ke dalam direktori log (direktori ini harus sudah dibuat sebelumnya).
Dan untuk modus NIDS, tambahan argumen -c yang merujuk ke file konfigurasi Snort, seperti berikut ini:
snort -d -l ./log -c snort.conf
Pada perintah di atas, file konfigurasinya bernama snort.conf.
Untuk menjalankan Snort sebagai daemon (background process yang terus berjalan), tambahkan argumen -D seperti pada contoh ini:
snort -d -l /var/log/snort.log -c /etc/snort.conf -D
Bicara soal file konfigurasi, berikut adalah contoh isi file konfigurasi:
var LOG_IP 100.10.12.13
alert tcp $LOG_IP any -> any any (msg: "Akses Dari Dia"; sid:1;)
File konfigurasi di atas menyebabkan Snort menghasilkan alert dalam file bernama alert setiap kali IP 100.10.12.13 melakukan akses TCP, dengan pesan berupa “Akses Dari Dia”.  Tentu saja ini adalah contoh konfigurasi sederhana yang tidak banyak berguna, akan tetapi cukup untuk menunjukkan syntax file konfigurasi Snort yang lumayan rumit.  Contoh di atas mengandung sebuah variabel IP bernama LOG_IP.  Variabel tersebut dapat digunakan dengan menulis $LOG_IP yang akan disubstitusi dengan nilai yang sesungguhnya.
Argumen yang biasanya diberikan saat memanggil Snort juga dapat dituliskan ke file konfigurasi sehingga tidak perlu diberikan secara manual pada saat menjalankan Snort, seperti pada contoh berikut:
#sama dengan argumen -D
config daemon

#sama dengan argumen -d
config dump_payload

#sama dengan argumen -l
config logdir: /var/log/snort

var LOG_IP 192.168.1.2
alert tcp $LOG_IP any -> any any (msg: "Akses Dari Dia"; sid:1;)
Gunakan preprocessor untuk memakai processor yang sudah disediakan oleh Snort.  Sebagai contoh, untuk mendeteksi terjadinya port scanning, tambahkan konfigurasi berikut:
preprocessor stream5_global:\
        track_tcp yes, track_udp yes, track_icmp yes

preprocessor stream5_tcp:\
        policy first

preprocessor stream5_udp

preprocessor stream5_icmp

preprocessor sfportscan:\
        proto { all } \
        scan_type { all } \
        sense_level { high }
Konfigurasi di atas akan memakai preprocessor sfPortScan dari Source Fire.  Syarat untuk memakai sfPortScan adalah menggunakan preprocessor Stream5.  Sekarang, bila seseorang melakukan port scanning (yang merupakan tahap awal dalam serangan), misalnya dengan menggunakan tool Nmap:
$ nmap -A -v 192.168.1.22
Maka, Snort akan menghasilkan alert seperti berikut ini:
[**] [122:1:0] (portscan) TCP Portscan [**]
[Priority: 3] 
06/06-03:34:13.052153 192.168.1.49 -> 192.168.1.22
PROTO:255 TTL:64 TOS:0x0 ID:0 IpLen:20 DgmLen:158 DF
Alert tersebut menunjukkan bahwa seseorang dari IP 192.168.1.49 melakukan port scanning untuk komputer dengan IP 192.168.1.22.
~sekian

Rule Firewall Untuk Memonitoring Bandwidth dengan Iptables

Rule Firewall Untuk Memonitoring Bandwidth dengan Iptables

Rule firewall untuk memungkinkan kita memantau statistik atau total penggunaan bandwidth internet yang dilakukan oleh jaringan lokal berdasarkan service tertentu.
Langkah pertama dalam membuat rule firewal adalah membuat chain baru dengan nama “DOWNLOAD”dan “UPLOAD” seperti berikut ini:

# iptables -­N DOWNLOAD
# iptables ­-N UPLOAD
# iptables ­-nL 
Setelah mendefinisikan chain baru , selanjutnya mendefinisikan rule-rule firewall untuk mengklasifikasikan traffic FORWARD menjadi traffic UPLOAD dan DOWNLOAD. Langkahnya sebagai berikut:
# iptables ­-A FORWARD ­-s 192.168.0.0/24 ­-o eth0 ­-j UPLOAD
# iptables ­-A FORWARD -­d 192.168.0.0/24 ­-i eth0 ­-j DOWNLOAD
Selanjutnya membuat rule-rule firewall untuk menyesuaikan traffic UPLOAD dan DOWNLOAD dengan service HTTP, SMTP, POP3, DNS, dan SSH, seperti berikut ini:
# iptables -­A UPLOAD ­-p tcp -­s 192.168.0.0/24 --dport 80
# iptables -A UPLOAD ­-p tcp ­-s 192.168.0.0/24 --dport 25
# iptables ­-A UPLOAD ­-p tcp ­-s 192.168.0.0/24 --dport 110
# iptables ­-A UPLOAD ­-p tcp ­-s 192.168.0.0/24 --dport 53
# iptables ­-A UPLOAD ­-p udp ­-s 192.168.0.0/24 --dport 53
# iptables ­-A UPLOAD ­-p tcp ­-s 192.168.0.0/24 --dport 22
# iptables ­-A DOWNLOAD -­p tcp -­d 192.168.0.0/24 --dport 80
# iptables ­-A DOWNLOAD ­-p tcp ­-d 192.168.0.0/24 --dport 25
# iptables ­-A DOWNLOAD ­-p tcp ­-d 192.168.0.0/24 --dport 110
# iptables ­-A DOWNLOAD ­-p tcp ­-d 192.168.0.0/24 --dport 53
# iptables ­-A DOWNLOAD ­-p udp -­d 192.168.0.0/24 --dport 53
# iptables ­-A DOWNLOAD ­-p tcp -­d 192.168.0.0/24 --dport 22
Setelah rule rule firewal dibuat jangan lupa untuk menyimpan rule yang ada dengan menjalankan perintah berikut ini:
# service iptables save
Untuk distribusi linux Ubuntu perintahnya sebagai berikut:
# iptables­save > /etc/myiptables.cfg
Melihat penggunaan bandwidth upload dan download Selesai melakukan konfigurasi, selanjutnya dapat kita lakukan pemantauan bandwidth. Untuk melihat total bandwidth upload dan download perintahnya sebagai berikut:
#  iptables -­nL FORWARD ­-v
Untuk melihat rincian bandwidth download setiap service perintahnya sebagai berikut:
#  iptables ­-nL DOWNLOAD ­-v
Untuk melihat rincian bandwidth upload setiap service perintahnya sebagai berikut:
#  iptables ­-nL UPLOAD ­-v

~sekian

Senin, 04 November 2013

Perbedaan Desktop Enviroment pada Linux

Banyak sekali Desktop Environment (DE) yang dapat kita pilih di Linux. Mulai dari KDE, Gnome, Xfce atau pun LXDE. Selain DE, kita juga dapat menggunakan window manager yang jauh lebih ringan, seperti: openbox, fluxbox, dan masih banyak lagi. Tapi apakah perbedaan dari semua hal tersebut? Hal pertama pastilah tampilan, performa, dan kapasitas yang dibutuhkan. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang itu semua, mari simak catatan berikut ini.

Gnome
Gnome merupakan salah satu Desktop Environment yang paling populer saat ini. Banyak distro yang menjadikan DE ini sebagai default. Tidak hanya itu, DE ini juga memiliki banyak percabangan (fork) seperti halnya Unity, MATE, ataupun Cinnamon.








Beberapa aplikasi bawaan dari Gnome diantaranya:
Window Manager: Metacity (GNOME 2.x); Mutter (GNOME 3.x shell)
File Manager: Nautilus
Office Suite: GNOME Office (which includes AbiWord and Gnumeric)
Music Player: Rhythmbox
Video Player: Totem
CD/DVD Burner: Brasero
Games: GnomeGames
  


KDE
KDE adalah desktop environment yang elegan. KDE juga memiliki tampilan yang sangat familiar dengan sistem operasi WIndows, sehingga pengguna yang baru menggunakan Linux dapat dengan mudah beradaptasi dengan Linux.












Beberapa aplikasi bawaan dari KDE diantaranya:
Window Manager: KWin
File Manager: Dolphin
Office Suite: KOffice
Music Player: Amarok
Video Player: Dragon Player
CD/DVD Burner: K3b
Terminal Emulator: Konsole
Games: The KDE Games Center
Education: KDE Edu


XFCE
XFCE adalah pilihan yang tepat jika komputer milik Anda terlalu berat menjalankan KDE dan Gnome. Hal ini dikarenakan XFCE merupakan DE yang ringan. XFCE juga memiliki tampilan yang menyerupai Gnome 2.












Beberapa aplikasi bawaan dari XFCE diantaranya:
Window Manager: Xfwm
File Manager: Thunar
Media Player: Parole
CD/DVD Burner: Xfburn
Task Manager: Xfce Task Manager


LXDE
Satu lagi DE yang yang ringan, LXDE. Desktop environment ini bahkan jauh lebih ringan daripada XCFE sehingga cocok untuk digunkan dikomputer lawas Anda.















Beberapa aplikasi bawaan dari LXDE diantaranya:
Window Manager: Openbox
File Manager: PCManFM
Task Manager: LXTask
Terminal Emulator: LXTerminal


Window Manager
Berbeda dengan DE yang memberikan aplikasi bawaan. WM tidak akan memberikannya. Hal inilah yang membuat WM jauh lebih ringan dari DE. Beberapa WM diantaranya: Enlightment, openbox, fluxbox, blackbox, dan masih banyak lagi.

Tabel Perbandingan
Berikut adalah tabel perbandingan mengenai penggunaan RAM dan CPU yang digunakan atau pun yang dibutuhkan.
  

NamaMinimal RAMPemakaian RAMMinimal CPUPemakaian CPU (total 2.6 GHz)Jenis
Gnome 2384 MB191 MB800 MHz1,0%Desktop Environment
Gnome 3 Shell768 MB530 MB400 MHz10,0%Desktop Environment
Unity1 GB590 MB1 GHz14,0%Desktop Environment
Cinnamon512 MB497 MB1 GHz13,0%Desktop Environment
KDE615 MB366 MB1 GHz9,8%Desktop Environment
Xfce192 MB144 MB300 MHz9,0%Desktop Environment
LXDE128 MB85 MB266 MHz1,0%Desktop Environment
Enlightenment64 MB72 MB200 MHz1,0%Window Manager
Fluxbox-69 MB-1,0%Window Manager
Openbox-60 MB-1,0%Window Manager
sekian trimakasih.